Sabtu, 27 Desember 2014

CERPEN PENYEJUK DAN KETULUSAN CINTA

“KETIKA MIMPI MENYAPA”


                Ketika mataku terbuka terlintas wajahmu menyapu kehangatan jiwaku saat  terkulai lemas terbaring kau menghiasi mimipiku dan melambungkan anganku menuju kepastian yang kunantikan .
            Setiap kata yang terucap dari bibirmu adalah anugrah terindah yang diberikan Tuhan padaku saat aku mengenalmu, saat aku dekat denganmu, dan ketika aku mendapatkan cintamu semua terhitung dan terpateri dalam memori sejarah kalbu cintaku yang suci padamu saat aku sadar dan terbangun kau belai wajahku dan kau bilang…..
“aku sayang padamu”
            Itulah hal terbahagia dalam hidupku saat tahu dan sadar bahwa kau juga menyayangiku… Tapi waktu dan jarak yang akan memisahkan kita walau hatiku tak rela,
Terbersit di hati tak ingin jauh apalagi berpisah denganmu…. Tapi waktu dan jarak yang akan memisahkan kita , walau hatiku tak rela, tapi aku percaya bahwa kita akan selalu bersama dalam hati…. Ku tau tak ada hal ang bisa memisahkan cinta kita walau jarak membentang luas dihadapan kita.
            Saat mimpi ini berakhir dan mataku kembali terbukamaka mentari akan tersenyum kembali padaku dan katakan...
….” Dia disana masih menungumu”…..
            Betapa indahnya mimpiku ini saat kembali terbayang wajahmu yang bersinar dan luapan emosi hilang sejenak bahkan waktu terasa 100 kali lebih cepat saat mata ini memandangimu…Kasih, tunggulah aku agar cinta ini selalu bersemi didalam hatiku.. dan hatimu agar kau sadar tak ada nama indah lain yang terukir dhatiku kecuali Kamu!!!
            Disitulah selesainya kalimat demi kalimat yang kutuliskan menggambarkan suasana hatiku yang sedang gelisah karena hanya dalam hitungan jam kedepan perpisahan akan datang..
Sakit hati yang dirasakan terlebih saat akan berpisah ini..
Ditulis kata demi kata sesuai keinginan hati sedih rasanya membayangkan kata-kata, “Sayang.. tibalah saatnya kita harus berpisah…”
Air mata mengalir, tetes demi tetes mengalir dipipi rasa sakit yang datang seolah ribuan jarum menorehkan ribuan luka  dihatiku.
Entah apa maksud ini semua, cinta ini begitu menyiksaku membuatku seolah tak ingin jauh darinya, selamanya ingin selalu dalam dekapannya yang hangat dan damai…namanya selalu terukir indah dihatiku,,, setiap kata demi kata terpateri dalam jiwa menyatu dalam aliran darahku…
“Tuhan jika boleh aku memohon, jangan pisahkan aku dengan dia, karena dia Mentari dalam hatiku yang selalu menerangi batinku…”            Disetiap ibadah yang kulakukan itulah doa yang selalu terucap agar tak sia-sia hidupku ini berlalu tanpamu.

            Tibalah waktu berpisah…
 “Sekarang aku harus pergi entah berapa tahun lagi kita bisa bertemu…”
Ujarku sembari meneteskan air mata kesedihan yang sangat menyiksa batin ini. Ketika air mata ini mengalir kubenamkan wajahku dipelukannya… diusapnya wajahku dan dibelainya pipiku, betapa bahagia hati ini seakan melayang-layang di udara…
“Tuhan,,, bisakah waktu berjalan 100x Lebih lambat agar kebahagian ini tidak lekas berlalu,,”
            Betapa indahnya saat ini, berada dalam pelukan orang yang dicintai, tak ingin rasanya aku pergi darinya, karena hanya dengan dia aku dapat merasakan hal indah ini seperti ini, hanya dia yang dapat membuat seluruh tubuhku bergetar dan mati rasa saat berada disisinya.
            Detik itupun tiba, ya!! Kami berpisah disimpang jalan itu kutatap dalam-dalam matanya yang selalu membuatku hanyut dan tak berdaya. Aku tinggalkan dia disana dan berjanji untuk bertemu 7 tahun yang akan datang ditempat yang sama. Yaah,, didalam bus itu  air mataku tak berhenti mengalir deras Meratapi kesedihan yang kurasakan betapa tak relanya hatiku ini meninggalkan dia yang mencintaiku.
7 tahun berlalu tak terasa ternyata aku telah menjadi seperti yang aku inginkan. Ya!! Aku menjadi seorang akuntan handal disuatu perusahaan ternama sesuai dengan cita-citaku. Hari ini aku akan bertemu dengan cintaku, ya!! Aku akan menemuinya hari ini, betapa senangnya hatiku saat menempuh perjalanan ini.
Ternyata tidak banyak yang berubah dengan tempat ini. Tempat terakhir kali aku berjumpa dengannya. 1…. 2…. 3… sampai 7 jam pula aku menunggunya tapi dia tidak juga menampakkan batang hidungnya,, entah apa yang terjadi padanya lalu aku putuskan untuk datang kerumahnya. Sesampainya disana, apa yang aku lihat benar-benar membuat mataku pedas menahan isak tangis. Bendera Kuning tertancap di halaman rumahnya … aku bertanya- Tanya dalam hati siapa yang meninggal, banyak orang berpakaian hitam silih berganti masuk kerumahnya, kuberanikan diri masuk kerumahnya dan pemandangan yang terlihat sungguh memekakkan mata dan telinga dia yang selama ini aku cintai telah terbaring tak berdaya dengan balutan kain putih yang membuat bulu kudukku berdiri, Kenyataan di depan mataku ini seolah ribuan pedang menghunjam tubuhku.
“Oh… Tuhan ,,, mengapa ini harus terjadi saat pertemuan di depan mata kami…” Dan kuterima pula kabar yang menyakitkan ini, ternyata dia meninggal 7 jam yang lalu di simpang jalan itu, berarti saat dia ingin menemuiku…
“Oh,, Tuhan !! betapa pahit kenyataan ini, kesetiiaan dan cintanya padaku dia bawa sampai mati..”
Kujalani hari-hari ku sendiri tanpa seorang pendamping sampai tak kusadari rambutku mulai kusam dan memutih. Hanya ini yang dapat kulakukan untuk membalas kesetiaan cintanya. Semoga dia tetap tersenyum hangat untukku disana.


                                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar