“
BELATI SANG GURU ”
Sesak nafas aku membayangkan ternyata adikku sendiri
yang menghianatiku, dia tega merampas istriku, entah apa yang dia pikirkan saat
melakukannya, entahlah akupun tak mengerti apakah aku berdosa telah membunuh
adikku sendiri karana rasa kecewa dan sakit hati yang kurasakan dia telah
melukai perasaanku sebagai seorang pria, dia telah merampas istri yang sangat
aku cintai. Sampai akhirnya aku mendekam dibalik jeruji besi ini dengan
ditemani oleh belati yang setia menemaniku kemanapun aku pergi sungguh sakit
hatiku membayangkan yang telah terjadi ini.
“Kania, besok adikku akan ke Jakarta dia akan bekerja
di Jakarta, jadi untuk sementara waktu dia tinggal di rumah kita, apa kamu
setuju sayang?”, ujar Ardian kepada Istrinya.
“Oh, begitu mas, tapi kenapa harus di rumah kita?, mas
kan tau rumah kita ini sempit sekali,” ujar Kania bernada sedikit keberatan, “ ia
sayang aku tau, ini hanya untuk sementara waktu saja setelah gaji pertamanya
turun dia akan pindah dari rumah kita, kasihan dia sayang kamu izinkan ya?”
ujar Ardian sedikit memohon kepada istrinya itu. “ Baiklah mas satu bulan ya
gag lebih lo, soalnya aku rikuh mas kalau ada orang lain di rumah kita, apalagi
aku tidak kenal dengan saudaramu itu,”
“
Ia sayang aku janji hanya satu bulan saja kok, terima kasih ya istriku sayang,”
ujar Ardian sambil memeluk istrinya dan selanjutnya malam ini mereka akhiri
dengan penuh kemesraan berdua.
David adalah saudara sepupu Adrian
yang tinggal di Kalimantan, untuk dua
tahun kedepan dia ditugaskan pimpinan perusahaannya untuk membantu perusahaan
cabang Jakarta dan terpaksa dia harus
pindah ke Jakarta. David adalah seorang pria dewasa yang tampan, pintar, dan
dalam segi materi dia cukup bahkan lebih namun satu hal yang sampai saat ini
belum ia miliki adalah seorang pendamping hidup.
“Tok… tok…..
tokkk…..”
“Assallamuallaikum……”
Ujar David memberi salam,
“ Wallaikum salam, David…???’, Apa kabar dav,
Wooowww…. kau kelihatan tampan sekali sekarang…” ujar Adrian menyambut
kedatangan saudaranya yang sudah lama tak bertemu itu,
“
Mas, Adri bisa aja,, Kabar David baik mas.”
Dengan membawa dua cangkir kopi Kania
keluar dan duduk disamping suaminya, “ David, kenalkan ini istriku Kania.” Ujar
Adrian memperkenalkan istrinya. Dengan mata terbelalak David menerima uluran
tangan Kania, “ Betapa cantiknya wanita ini,” ujarnya dalam hati.
“
Kania..”
“
David..”
“
Ok!! David, sepertinya kamu perlu istirahat aku sudah siapkan kamarmu silahkan
kamu istirahat dulu,” Adrian mempersilahkan David istirahat dan membawakan barang-barang David ke kamarnya.
“
Ia mas Adrian, makasi banyak ya aku jadi ngerepotin mas ya?”
“
Santai aja Dav anggep rumah sendiri kalu perlu apa-apa bilang aja,,”
“
ia mas makasi yah kalo gitu saya istirahat dulu..”
Adrian meninggalkan David dikamarnya sendiri, David
pun menutup pintu dan berbaring di atas tempat tidur yang tidak seempuk tempat
tidur dirumahnya di Kalimantan, ya!! Adrian hanyalah seorang guru, berapalah
penghasilan seorang guru zaman sekarang ini, hanya untuk keperluan sehari-hari
saja kadang kurang. Tidak seperti David dia seorang Marketing yang handal yang
selalu memenangkan tender-tender proyek besar di perusahaan tempat dia bekerja.
Semakin dibayangkan David semakin kagum pada Kania.
“ Mas,
bagaimana ini ya kita harus membayar kontrak untuk bulan ini, kalau tidak kita
akan di usir dari rumah ini,” Kania mengeluh kepada suaminya.
“Sabar
ya sayang aku akan cari kerja tambahan agar kita tidak selalu kekurangan
seperti ini.”
“
Mas makasi ya, kamu udah ngerti’in perasaan aku selama ini.”
“
Aku sayang kamu Kania, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan
kamu, kamu adalah istri yang aku idam-idamkan Kania, aku cinta kamu,” ujar
Adrian sambil memeluk istrinya.
“
Kania juga sayang sekali sama mas Kania cinta sama mas,” ujar Kania sambil
membenamkan wajahnya didada Adrian.
David yang mendengar pembicaraan mereka menjadi
sedikit kecewa ternyata Kania sangat mencintai mas Adri, betapa iri hatinya
melihat kemesraan mereka berdua di tengah kesulitan yang mereka hadapi.
“
Kania… Kania…” teriak Adrian ketika pulang bekerja sore itu.
“Iya,,
iya mas Kania disini, ada apa mas?, kok senang sekali,” ucap Kania
terheran-heran melihat suaminya pulang dengan wajah berseri-seri.
“
Kania, aku sekarang sudah mendapat pekerjaan sampingan Kania, ada temanku yang
menawarkan aku menjadi seorang guru mengaji di pesantren didesa sebelah.”
Adrian gembira sekali menceritakan itu kepada istrinya, tapi sebaliknya Kania
memasang wajah murung.
“
Loh, kenapa kamu murung Kania, apa kamu gag senang aku dapat pekerjaan tambahan?”
Tanya Adrian dengan heran.
“
bukan gitu mas, Kania bakal di tinggal terus dong sama mas, Mas bakalan jarang
dirumah bersama Kania..” ucap Kania sambil bergalayut manja dipundak Adrian.
“Istriku
sayang kau percaya padaku kan, ini semua demi kamu sayang?” Ujar Adrian sembari
tersenyum melihat kelakuan istrinya itu.
“Ia,
mas tapi mas jangan lupa lo dirumah ada Kania yang nunggu mas pulang..”
“
ia sayang, mas gag akan lupa ko,” Adrian mengeramasi kepala Kania dengan penuh
cinta dan kasih sayang.
David yang selalu menyaksikan
kemesraan mereka berdua semakin iri saja, Sementara sekarang Adrian jarang
berada dirumah karena waktunya tersita kesana kemari membanting tulang mencari
uang agar istrinya tidak kekurangan.
“
Kania, Mas Adri jarang pulang begini apa kamu gag kesepian?” Tanya David saat
Kania ingin menyiapkan makan malam didapur.
“
Kesepian sih tapi mau gimana dong, ini kan semua demi aku juga.” Jawab Kania
santai.
“
Aduh gimana yah mau masak kok semuanya abis begini, mana mas Adrian belum pulang,,” pikir Kania
dalam hati
David yang mengerti kesulitan Kania saat itu segera
mengeluarkan dompet nya, dan memberikan tiga lembar uang seratus ribuan, “
pakailah Kania untuk membeli keperluan dapur yang sudah pada habis itu.”
“
gag usah Dav, aku masi punya uang simpanan kok.” Jawab Kania menolak pemberian
David., Kania berjalan kekamar membuka Dompet nya dan dia hanya bisa menggigit
bibirnya dengan kelu, seperak pun dia tidak punya uang untuk membeli keperluan
dapur sedangkan mas Adri belum pulang.
“
Sudahlah Kania gag papa, pakai saja uang ini, aku ikhlas kok, aku juga numpang
tinggal disini jadi sudah sewajarnya aku melakukan ini.” Ucap David meyakinkan
Kania agar mengambil uang itu, dengan berat hati dan rasa tidak enak Kania menerima
pemberian David, dan ia langsung pergi ke warung untuk membeli keperluan dapur
dan membayar sebagian hutangnya di warung.
“David,
terima kasih ya kamu sudah memberikan aku uang untuk melunasi hutangku dan membeli
keperluan dapur.”
“
Ia sama-sama Kania santai aja..” jawab
David sembari tersenyum.
Tampan
sekali David, pikir Kania dia kaya dan dia baik, benar-benar pria yang sempurna,
David memang sempurna segala-galanya. Kania mulai mengolah sayur yang dibelinya
di warung dia mengiris bawang dan cabe,
“
Aww,,,!! Kania sedikit berteriak, darah mengucur dari jarinya,
“
Kenapa Kania?” Tanya David panik
“
jariku terkena pisau..” Tanpa basa –
basi David langsung menyambar tangan Kania dan meghisap darah yang keluar dari
jari-jarinya yang mungil, dan David membimbing Kania kekamarnya untuk mengobati
lukanya.
“
Terima kasih ya David kamu baik sekali,” ujar Kania sambil memandangi David
yang masih sibuk membalut lukanya, David mengangkat wajahnya dan menatap wajah
cantik Kania, “ Kamu cantik sekali
Kania..” ujar David sambil mengangkat dagu Kania, perlahan- lahan David
mendekatkan wajahnya ke wajah Kania, dan dengan sekelabat David melumat bibir
Kania, Kania yang sudah seminggu tidak bertemu suaminya dan merasa kesepian
menyambut ciuman hangat itu dengan senang hati. Mereka menikmati sekali, dan
permainan mereka semakin lama semakin jauh dan akhirnya sesuatu yang seharusnya
tidak boleh terjadi itu, mereka Lakukan,,,
“
Emh David,,,” ujar Kania menitikkan air mata,” apa yang kita lakukan ini
David?”
“
Tenanglah Kania ..” ucap David sambil membelai rambut Kania.
“
Aku telah mengkhianati mas Adri, aku ini wanita kotor..”
Sejak peristiwa itu Kania selalu
melakukan hal terlarang itu dirumahnya bersama David terutama saat Adrian tidak
berada dirumah, namun dia merasa malu kepada Adrian maka dari itu dia tidak mau
lagi berhubungan intim dengan suaminya dia merasa malu dan takut. Kania tidak pernah lagi menyambut Adrian dengan
tersenyum saat Adrian pulang kerumah, tentu saja Adrian merasa heran kenapa
istrinya berubah menjadi seperti ini.
“
Kania, sebenarnya ada apa denganmu, kenapa kamu tak mau lagi tersenyum padaku
suamimu sendiri?” Tanya Adrian suatu ketika
“
Aku malas.” Ujar Kania sekenannya
“
Apa maksudmu berkata seperti itu?”
“
Mas, sudahlah aku gag kenapa-kenapa aku Cuma malas saja , kamu tidak usah
memperpanjang masalah,” cetus Kania meninggi.
Sementara itu terdengar
selentingan-selentingan tetangga yang membicarakan istrinya membuat hati Adrian panas mendengarnya.
“
Eh,, bu Tuti, tau gak sich, makin lengket aja ya David sama mbak Kania itu, apa
lagi semenjak Mas Adrian jarang pulang karena mengajar terus.”
“
ia jeng Ela, mungkin mereka ada apa-apa nya, bayangin aja David itu kan
kerjanya kantoran banyak duitnya, Adrian
itu apa,, dia kan cuma guru, berapa si penghasilan
guru zaman sekarang ini?”
“
ia, tapi kasian juga Adrian itu kalo sampe benar mbak Kania ada apa-apanya sama
David adiknya.”
Begitulah yang sering dibicarakan para
tetanggannya jika melihat Adrian lewat dihadapan mereka hendak pergi bekerja,
Adrian merasa tidak enak hati juga lama-lama mendengarnya, maka berhubung
Kepala sekolah tempat dia mengajar menawarkan rumah dinas di dekat sekolahnya
untuk ditempati maka dia menerima penawaran itu tanpa pikir panjang lagi.
“
Kania, besok kita pindah kerumah dinas biar David tinggal disini dan membayar
sewanya sendiri.” Ucap Adrian menegaskan.
“
Kenapa mas gag kompromi sama aku dulu, main memutuskan sendiri.” Jawab Kania
bernada sedikit kurang suka.
“
Nanti keburu rumah itu ditempati orang lain.” Jawab Adrian singkat memberi alasan.
Setelah pindah Adrian merasa agak lega
mereka jauh dari David yang merupakan ancaman bagi keutuhan rumah tangganya.
“
Kania, malam ini aku menginap di rumah pak Anwar sebab aku akan mengajar hingga
larut malam.”
“
Ia, mas.” Jawab Kania singkat.
Adrian merasa teriris hatinya,
istrinya kini telah berubah, selalu bersikap dingin kepadanya, istrinya tidak
pernah lagi bergelayut manja dipundaknya, tidak pernah lagi memeluk dirinya,
bahkan jarang tersenyum manis padanya.
“
Anak-anak pesan bapak jadilah orang yang baik, mau menolong sesama, menghormati
orang lain agar kelak kita di muliakan Allah.” Ujar Adrian diakhir ceramahnya diantara para
santrinya.
“
Adrian, makanlah dulu lalu istirahat kamu pasti lelah.” Ucap Pak Anwar sambil
menepuk pundak Adrian, Pak Anwar sudah menganggap Adrian sebagai anaknya
sendiri, dia sangat menyukai Adrian karena sikapnya yang santun dan baik hati,
sayang Adrian telah menikah kalau tidak dia ingin sekali mengambil Adrian
sebagai menantunya menjadi suami anaknya Aisyah.
“
Ah, tidak pak saya makan dirumah saja, perasaan saya tidak enak pak, saya ingin
segera pulang.” Ujar Adrian dengan nada gelisah tak karuan.
“
Adrian, ini sudah malam jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, menginaplah,”
jawab pak Anwar menenangkan Adrian yang terlihat sangat gelisah.
Dengan tidak memperdulikan ucapan pak
Anwar Adrian langsung memacu motornya melintasi jalan yang gelap menuju
rumahnya dengan hati yang gelisah. Benar saja ketika ia sampai di depan
rumahnya, tampak sepasang sepatu yang dia kenal, ya!! Itu sepatu milik
David, tapi jika dia ada disini mengapa lampu ruang tamu tidak menyala, Adrian
bertanya – Tanya didalam hati. Dengan perlahan dia memutar handle pintu,
Tidak
terkunci, dengan hati-hati Adrian masuk terus melangkah, tak ada
siapa-siapa disana, dia terus melangkah menuju kamarnya terdengar suara nafas
memburu, pintu kamarnya terbuka sedikit dan dibukanya pintu itu, terlihatlah
dua sosok manusia berlainan jenis yang sangat di kenalnya tanpa pakaian diatas
tempat tidurnya. Betapa sakit hatinya melihat kenyataan itu. Melihat itu Kania
langsung menutupi tubuhnya dengan selimut dan langsung berdiri lalu bersujud di
kaki Adrian memohon ampun, namun Adrian tak bisa mentolerir itu semua, dengan
geram diambilnya belati yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi dari
sakunya dan dengan sakit hati yang begitu terasa, dia hunjamkan belati itu di
punggung David yang masih terbaring tak bisa berkata apa-apa, di hunjamkannya
beberapa kali, sampai dia sadar tidak terdengar lagi jeritan David pertanda
bahwa arwahnya telah meninggalkan jasadnya yang berdosa , Kania yang melihat kejadian itu, dia menelpon polisi
lalu berlari keluar menjerit meminta
pertolongan kepada tetangganya, berduyun-duyun warga datang, untuk melihat
kejadian itu. Dengan tubuh lemas kehilangan arah, Adrian keluar dan langsung
menyerahkan diri kepada Polisi yang sudah berada di depan rumahnya. Matanya
memandang Kania dengan tatapan kecewa, Oh, tak disangka Kania wanita yang
lembut dan baik hati tega berbuat sekeji itu padanya, mengkhianati sumpahnya
untuk setia, Sejak saat itu Adrian di vonis penjara seumur hidup, kini sisa
hidupnya ia lalui di dalam sel, Kania tidak pernah datang menjenguknya, atau meminta
maaf atas dosa-dosanya, Adrian juga sudah menceraikan istrinya dia sudah tidak
bisa mema’afkan kelakuan istrinya yang sudah lebih hina dari seorang pelacur.
Regard’s